Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyebut negaranya akan meninggalkan proyeksi Mercator dan beralih ke representasi yang menggambarkan luas permukaan negara secara lebih akurat.

"Amerika Serikat, Rusia, dan China mendapatkan penonjolan visual tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara," katanya, dikutip NadiKabar dari NadiKabar.

Pemungutan suara PBB ini terjadi setelah Uni Afrika mengadopsi Peta Equal Earth bulan Maret, dan setelah Togo, atas nama Uni Afrika, meminta negara anggota PBB untuk melakukan hal yang sama.

Selandia Baru juga sempat mempermasalahkan peta Mercator. Sebuah iklan pariwisata tahun 2018 bercanda bahwa Selandia Baru menghilang dari peta dunia karena posisinya di sudut kanan bawah.

Platform peta digital seperti Google Maps saat ini juga masih menggunakan versi proyeksi Mercator. Draf resolusi tersebut mendesak platform-platform teknologi untuk berdiskusi dengan negara-negara anggota PBB dan organisasi regional agar mengadopsi proyeksi yang lebih akurat.

Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya.