Dashboard VERA juga dilengkapi chatbot AI sebagai sarana edukasi untuk membantu pengguna memahami informasi mengenai kualitas udara dan lingkungan.
Dari sisi harga, Bryotech Alpha menargetkan Aerospora dapat dipasarkan seharga Rp 1,2 juta, dengan konsumsi listrik sekitar 15–25 watt dan cakupan ruangan 50–80 meter persegi.
Meski demikian, angka tersebut masih merupakan target pengembangan yang dipaparkan tim, bukan hasil pengujian independen mengenai efektivitas pemurnian udara.
Di balik teknologi Aerospora, perjalanan keempat siswa SMAN 81 Jakarta mengembangkan inovasi ini ternyata penuh tantangan. Mereka mengaku belum memiliki pengetahuan dasar tentang AI maupun IoT ketika pertama kali memulai proyek.
"Jujur, kami benar-benar nol dalam hal IoT dan juga AI. Kami benar-benar belajar dari nol, sampai rela ke Bandung untuk belajar bagaimana cara bekerjanya," tutur Vania.
Perjalanan ke Bandung menjadi bagian penting dalam proses pengembangan Aerospora. Di sana, mereka mendapat bantuan untuk mempelajari dasar-dasar elektronika, mikrokontroler, dan cara mengintegrasikan berbagai komponen.
Tantangan tidak berhenti pada pemrograman. Mereka juga harus merancang sendiri struktur panel PVC, memasang lumut, menyusun lapisan media tanam, hingga membuat sistem perpipaan agar perangkat dapat berfungsi dengan baik.
Salah satu pengalaman yang paling diingat adalah ketika prototipe awal mengalami masalah akibat air dari sistem penyemprotan merembes ke bagian bawah perangkat.
"Awalnya kami memang tidak ada pipa di bawahnya. Ternyata setelah di-misting, airnya merembes ke bawah. Wah, banjir nih. Akhirnya kami buat pipanya," cerita Aqeela.