NADIKABAR.COM — Ketua DPP PDIP sekaligus eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berbicara soal watak kepemimpinan yang harus terus mendengar dan berdialog dengan warganya di acara peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda PDIP, Rabu (28/10).

Ahok yang hadir bersama ekonom senior Thomas Trikasih Lembong itu mengatakan, seorang pemimpin harus terus mendengar setiap keluhan masyarakat.

Menurut Ahok, menjadi Gubernur Jakarta, memberinya pelajaran bahwa kebijakan yang diambil tanpa kajian dan dialog justru akan merugikan masyarakat.

Ahok menceritakan pengalamannya saat merelokasi warga ke rumah susun. Meski bertujuan baik, relokasi itu justru mematikan usaha kecil mereka.

"Dulu kita pindahkan orang, kita berpikir untuk kebaikan dia, ternyata orang yang tinggal di gang-gang sempit itu dia bisa dagang," ujar Ahok.

Pada kesempatan itu, Ahok juga isu transparansi anggaran. Menurutnya, teknologi seharusnya membuat kebocoran anggaran lebih mudah dicegah, bukan dibiarkan. Dia mengaku hal itulah yang dia lakukan di Jakarta.

"Saya di DKI berani buka semua. Sampai beli air minum kemasan Anda bisa baca di dalam website," ujarnya.

Selain itu, dia pun menyoroti pembagian hasil sumber daya alam yang mestinya daerah mendapat bagian lebih besar. Kata Ahok, jabatan publik bukan soal kekuasaan, melainkan pengelolaan keadilan sosial.

"Jadi kita harus jadi pejabat adalah administrator untuk mewujudkan keadilan sosial,' ujar Ahok.