Salah satu penerapan yang diusulkan Dedy adalah pemanfaatan AI telemedicine di puskesmas, terutama di wilayah perdesaan dan daerah kepulauan.

Melalui skema tersebut, RI diharapkan dapat meningkatkan jangkauan layanan kesehatan, sementara Korea Selatan dapat menguji dan mengembangkan model AI kesehatan yang telah diterapkan di wilayah kepulauan.

"Saya membagi tahapan kerja sama ini menjadi tiga. Tahap pertama pada Juni 2027, yakni menyiapkan infrastruktur AI dan digital, model serta tenaga ahli dari Korea, sementara Indonesia menyediakan data, pendanaan bersama, dan perincian implementasi," jelasnya.

"Tahap kedua pada April 2029, model AI dari Korea diharapkan sudah teruji di wilayah kepulauan dan dapat diperluas penerapannya di Indonesia maupun Korea. Tahap ketiga pada 1 Januari 2031 diarahkan pada riset dan pengembangan bersama serta kepemilikan bersama," lanjut Dedy.

Namun, Dedy mengakui MoU tersebut masih memiliki sejumlah aspek yang perlu diperjelas. Meski ruang lingkup dan prioritas kerja sama dinilai cukup kuat, pengaturan pemantauan, tata kelola data, hak kekayaan intelektual, pembagian manfaat, anggaran, target, dan jadwal belum dibahas secara terperinci dalam dokumen tersebut.

Dalam kesempatan sama, Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology (KIISC) Howon Kim mengatakan koordinasi lanjutan antara Indonesia dan Korea Selatan telah dilakukan pada 13 Mei untuk membahas implementasi MoU tersebut.

"Penerapan AI dapat mencakup konsultasi kesehatan jarak jauh, asisten untuk skrining dasar dan pengelolaan penyakit primer, serta layanan kesehatan ibu dan anak. Selain itu, AI juga berpotensi digunakan untuk pengasuhan anak, kesejahteraan digital, dan perawatan lansia," ujar Howon.

Meski demikian, ia menjelaskan layanan medis jarak jauh masih menghadapi pembatasan regulasi di Korea Selatan. Selain itu, belum ada produk atau perusahaan Korea tertentu yang ditetapkan untuk menjalankan kerja sama tersebut.

Kerja sama juga berpeluang mencakup seminar bersama dan kolaborasi antara rumah sakit, perusahaan kesehatan, serta instansi pemerintah kedua negara.

Howon turut mencontohkan teknologi cermin berbasis AI yang dapat mengukur detak jantung dan tekanan darah sebagai salah satu layanan kesehatan digital yang telah dikomersialkan di Korea Selatan.

"Kerja sama ini juga dapat mencakup seminar bersama dan kolaborasi antara rumah sakit, perusahaan kesehatan, serta instansi pemerintah. Kita dapat mengembangkan layanan teknologi informasi bersama perusahaan Indonesia dan Korea, khususnya untuk layanan ibu dan anak," jelasnya.