Kerentanan PHP ini ditemukan menggunakan teknologi AI oleh dua perusahaan keamanan siber, Calif dan Wiz, melalui penelitian terpisah.

Calif mengungkap telah menemukan celah tersebut pada 1 Agustus dengan bantuan model bahasa besar atau large language model (LLM).

Sementara itu, Wiz, perusahaan keamanan siber milik Alphabet, menyatakan menemukan kerentanan serupa menggunakan Wiz Atlas, alat penelitian keamanan otonom berbasis AI, serta Google Gemini 4 Argon dan OpenAI GPT-5.6 Sol.

Menurut Wiz, celah tersebut telah tersembunyi dalam kode PHP selama lebih dari satu dekade dan sebelumnya sangat rumit untuk dieksploitasi secara manual.

Namun, kemampuan AI membuat proses pencarian dan eksploitasi kerentanan menjadi lebih mudah dilakukan dalam skala besar.

Calif dan Wiz menyatakan telah berkoordinasi dengan tim pengembang PHP serta OpenAI terkait penemuan tersebut.

Kepala Keamanan Amazon CJ Moses mengungkap timnya mendeteksi upaya eksploitasi terhadap sistem jebakan atau honeypot milik perusahaan pada 17 Oktober, empat hari sebelum kerentanan diumumkan kepada publik.

Amazon kemudian mendeteksi upaya serangan lainnya pada Rabu (21/10), sebelum informasi kerentanan dipublikasikan secara resmi.

Meski belum dapat memastikan apakah serangan tersebut akan berhasil terhadap situs web sebenarnya, Amazon menyatakan kerentanan PHP kini telah dieksploitasi secara luas.

Merespons isu ini, lembaga keamanan siber di berbagai negara mengimbau pengguna PHP segera menerapkan pembaruan keamanan atau menonaktifkan situs sementara hingga perbaikan dapat dilakukan.