Meski sudah di tempat ketinggian, perasaan Siti belum tenang karena tiga anak yatim piatu yang diasuh sejak kecil belum ditemukan. Sebelum kejadian, ketiga anak itu tidur terpisah dengannya.
Siti mulai menyusuri lorong hingga jalan setapak untuk mencari satu per satu. Tiba di sebuah rumah, Siti melihat ketiga anak itu sedang duduk dan menyaksikan orang-orang santap makan.
Perasaan Siti hancur karena ketiganya sama sekali tak membawa uang sepeser pun. Ia lantas memberikan mereka uang secukupnya saja agar bisa membeli jajanan. Siti sempat berpesan agar menghemat.
Siti kemudian meninggalkan mereka untuk mencari tenda. Akhirnya mereka bisa mendirikan tenda di Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa.
"Awalnya itu kan kami tidur terpisah sehingga saat kejadian juga saya kami tidak saling baku tahu keberadaan masing-masing. Ini yang membuat saya pikiran sekali karena saya yang urus setelah orang tua mereka meninggal," tutur Siti.
Hal ini membuat Siti tak mampu menahan air matanya. Ia histeris saat mengisahkan kembali momen tersebut. Siti sesekali mengangkat kedua tangannya yang sudah keriput untuk menyeka tetesan air mata yang terus membasahi pipinya.
Selama ini Siti menganggap ketiga anak tersebut seperti anak kandungnya sendiri. Bagi Siti, hidup serba kekurangan asalkan masa depan mereka tidak sirna dalam mengenyam pendidikan.
Perempuan berjilbab hitam itu kini berstatus janda. Suaminya bernama Serma Syafrudin Ibrahim merupakan purnawirawan TNI AD dan juga veteran Operasi Seroja di Timor-Timur kala belum menentukan nasibnya sendiri.
Ibrahim merupakan salah satu prajurit yang terjun langsung dalam Operasi Seroja di Timor-Timur yang dimulai pada 7 Desember 1975. Operasi ini dikenal sebagai invasi militer besar-besaran dari Indonesia untuk memburu pasukan pro kemerdekaan, yakni Fretelin.