Gambaran itu memperlihatkan bahwa penyaluran air bukan pekerjaan sederhana. Ada armada, bahan bakar, sumber air, rute distribusi, tempat penampungan, tenaga lapangan, dan koordinasi antarlembaga yang harus bergerak bersamaan.

Karena itu, bantuan tangki tetap penting sebagai respons kedaruratan. Namun, ukurannya harus jelas. Bantuan semestinya dipahami sebagai jembatan menuju pemulihan, bukan keadaan yang dibiarkan menjadi pola permanen setiap kemarau.

Apalagi kebutuhan air tidak berhenti pada minum. Rumah tangga memerlukan air untuk memasak, mandi, mencuci, sanitasi, beribadah, dan aktivitas ekonomi. Artinya, kekurangan air dapat memukul kualitas hidup jauh lebih luas daripada sekadar persoalan sulit memperoleh air minum.