Ibu Isaac, Sri Yuliawati, mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan putranya berlangsung tidak lama sebelum peristiwa penusukan.
Menurut Yuli, sebelum pukul 19.00 waktu setempat, Isaac sempat memberi tahu kekasihnya bahwa ia hendak makan dan memasak.
Beberapa menit setelah percakapan tersebut, ponsel Isaac masih terpantau aktif. Namun, komunikasi dengan orang-orang terdekatnya di Indonesia kemudian terputus.
Keesokan harinya, keluarga menerima kabar bahwa Isaac telah meninggal dunia dan diduga menjadi korban penusukan. Bagi Yuli, yang berprofesi sebagai dokter, peristiwa tersebut sulit dipahami karena ia mengenal putranya sebagai pribadi yang tidak suka mencari masalah.
Menurut penuturan Yuli, Isaac justru cenderung menjauh ketika menghadapi konflik dan tidak pernah bertengkar dengan adik maupun teman-temannya. Dia juga menyebut putranya biasanya menunggu hingga dapur bersama dalam keadaan kosong sebelum turun untuk memasak.
Sementara itu, ayah Isaac, Herryanto, mengungkapkan betapa beratnya kehilangan yang dialami keluarga setelah kematian putranya.
"Jadi bagi kami ini kehilangan yang luar biasa sekali. Isaac adalah anak yang baik, yang sangat sangat kita harapkan pada nantinya di masa depannya. Tapi kenyataannya seperti ini, dia mengalami kejadian yang tragis, bahkan boleh dibilang pembunuhan yang enggak masuk akal gitu ya," tutur Herryanto ketika persidangan berlangsung.
"Ini tentu saja memukul kehidupan keluarga kami, emosi kami, kesakitan, penderitaan kami. Itu kami alami begitu rupa, sampai saat ini kami masih merasakan, bahkan mungkin seumur hidup kami," imbuh Herryanto.