NADIKABAR.COM — Enzo Fernandez resmi memulai petualangan baru di Manchester City dengan mengenakan nomor punggung 17. Meski nomor tersebut identik dengan legenda klub, Kevin De Bruyne (KDB), Fernandez mengungkapkan ada alasan yang jauh lebih personal di balik pilihannya tersebut.

Gelandang asal Argentina ini mendarat di Etihad Stadium dengan nilai transfer fantastis sebesar 125 juta paun. Angka ini menempatkannya sebagai pemain termahal dalam sejarah Premier League, bersanding dengan Alexander Isak.

Kehadiran Fernandez sekaligus mempertegas proyek peremajaan lini tengah City di bawah asuhan Enzo Maresca musim ini. Sebelumnya, sebagaimana klub telah mengamankan jasa dua talenta muda, Elliott Anderson dan Ayyoub Bouaddi, dengan total investasi mencapai 100 juta paun.

Sebagai pilar krusial dalam skema permainan Maresca, Fernandez langsung dipercaya mengenakan nomor 17. Selama hampir satu dekade, nomor tersebut sangat melekat pada sosok De Bruyne yang mendominasi Premier League lewat catatan gol dan assistnya. Publik pun mulai berekspektasi Fernandez mampu memberikan pengaruh serupa di lapangan.

Namun, Fernandez menegaskan bahwa pilihannya bukan didasari keinginan mengikuti jejak De Bruyne. Angka 17 memiliki ikatan emosional bagi sang pemain karena merupakan nomor punggung pertamanya saat memulai debut di Timnas Argentina. Selain itu, angka tersebut merujuk pada tanggal kelahirannya, yakni 17 Januari 2001.

"Halo semua, saya memilih nomor 17 karena saya suka nomor itu. Itu benar-benar lekat dengan saya, sebab itu adalah nomor pertama saya di tim nasional. Jadi saya sangat senang bisa memakai nomor ini," ujar Fernandez seperti dikutip dari situs resmi klub.

Keputusan ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan nomor di skuad City. Nomor 8 yang pernah ia gunakan di Chelsea saat ini telah dipakai oleh Mateo Kovacic, sementara nomor 24 sudah menjadi milik Josko Gvardiol.

Dengan nomor 17 di punggungnya, Fernandez kini siap membuka lembaran baru bersama Manchester City. Bagi sang gelandang, nomor warisan De Bruyne ini bukan sekadar identitas baru, melainkan kelanjutan dari cerita personal yang sudah ia mulai jauh sebelum menginjakkan kaki di Manchester.

Artikel ini sudah tayang di NadiKabar