Erupsi tersebut mengakibatkan perangkat kamera pengawas (CCTV) yang digunakan untuk memantau aktivitas gunung mengalami kerusakan. "Kerusakan perangkat yang berada dekat kawah dapat mengurangi cakupan pengamatan visual dari titik tertentu, tetapi tidak semata-mata menghentikan pemantauan Gunung Anak Krakatau. Pemantauan yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM ini dilakukan secara multiparameter dan tidak hanya bergantung pada satu CCTV atau satu instrumen saja," tuturnya.
Menurut Lana, parameter utama yang digunakan mencakup jaringan seismik, pengamatan visual dari lokasi aman, deformasi, emisi gas, citra satelit, serta informasi lapangan. Redundansi instrumen sangat penting karena peralatan yang ditempatkan dekat gunung api aktif selalu berisiko terkena lontaran material, abu, cuaca ekstrem, maupun gangguan komunikasi.
"Untuk itu, PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM juga melakukan evaluasi kualitas dan kontinuitas data. Perbaikan atau penggantian alat akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas dan keselamatan petugas. Selama aktivitas tinggi, personel tidak akan dikirim memasuki zona berbahaya hanya untuk memperbaiki sistem," pungkasnya.