Namun, ia menekankan penyebab dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan institusi terkait.
Adi menerangkan bahwa hal yang perlu diperhatikan bukan semata-mata kemunculan lava fountain, dentuman, atau getaran, melainkan aktivitas dan intensitas erupsi serta produk vulkanik yang dikeluarkan. Gunung Anak Krakatau diketahui memiliki tipe erupsi Strombolian yang dapat mengeluarkan lava pijar, material vulkanik, abu, maupun gas.
Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk nelayan, perlu meningkatkan kewaspadaan ketika aktivitas erupsi menghasilkan produk vulkanik dalam jumlah yang dapat membahayakan.
"Jadi, itu juga salah satu yang dikhawatirkan, terutama orang-orang yang ada di sekitar Anak Krakatau itu supaya mereka harus waspada karena pada saat erupsi, bisa saja dia mengeluarkan produk-produk yang banyak dan tentu akan membahayakan bagi nelayan, masyarakat yang ada di seputaran Anak Krakatau," katanya.