"Memang warga sudah lama ingin ada jembatan, karena selama ini anak-anak ke sekolah naik rakit. Meskipun ada jalur darat, tapi harus memutar cukup jauh. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi," kata Agus.
Bagi bocah Kampung Sadang, rakit menjadi moda transportasi alternatif agar bisa bersekolah. Jika menempuh perjalanan darat, rute yang mereka tapaki lebih memutar dengan waktu tempuh sekitar 30 menit berjalan kaki atau 15 menit menggunakan sepeda motor.
"Saya dan beberapa orang di sini, setiap hari mulai dari pagi dan siang hari mengantarkan anak-anak ke sekolah naik rakit. Saat ini, yang naik rakit ada 16 anak, kalau dulu lebih bisa sampai puluhan," kata Agus.