Imam kemudian dapat mengucapkan kembali forma atau kata-kata konsekrasi sesuai dengan ketentuan liturgi yang berlaku. Hal ini penting karena bagian tersebut berkaitan dengan sesuatu yang sangat kudus dalam Perayaan Ekaristi.

Namun, bagaimana jika imam baru menyadari bahwa kata-kata konsekrasi terlewat setelah Misa selesai? Dalam situasi tersebut, imam sebaiknya tidak mengambil kesimpulan atau mencari pembenaran sendiri, melainkan berkonsultasi dengan pihak yang berwenang dalam Gereja.

"Ini menjadi persoalan yang lebih kompleks. Jangan mencari pembenaran sendiri. Imam tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan uskup dan vikjen atau kuria keuskupan agar persoalan tersebut dapat dinilai dan ditangani sesuai hukum liturgi Gereja, karena kita sedang berhadapan dengan Sakramen Mahakudus," pungkasnya.

Menurut Frater Gaudensius Daneswara Dang Atmaja SCJ, melalui akun Komsos Gereja Santo Barnabas, Paroki Pamulang, sikap umat saat konsekrasi mengacu pada ketentuan dalam PUMR. Pada umumnya, umat mengambil sikap berlutut selama konsekrasi, tetapi jika kondisi tidak memungkinkan, umat dapat berdiri dan membungkuk dengan khidmat sesaat setelah imam berlutut usai konsekrasi.

Lebih lanjut, Frater Gaudensius menjelaskan bahwa tidak ada aturan baku yang mengatur sikap umat ketika imam mengangkat hosti dan piala. Namun, umat tetap perlu memperhatikan ketentuan liturgi serta kenyamanan umat lain yang sedang mengikuti perayaan Ekaristi.

"Pada saat imam mengangkat hosti dan piala, apakah boleh kita memilih sikap sesuai dengan hati kita, seperti berdiri, mengangkat tangan, dan semacamnya? Tentu saja tidak ada larangan yang mengatur secara baku, tetapi terkadang hal tersebut dapat mengganggu umat yang lain," jelas Frater Gaudensius.

Ia kemudian mengingatkan bahwa ketentuan liturgi perlu lebih diutamakan daripada pilihan pribadi yang dapat mengganggu keseragaman dan kekhidmatan perayaan.

"Oleh karena itu, ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawi harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan," lanjutnya.

Selanjutnya, ketika imam mengangkat hosti dan piala, umat dianjurkan memandangnya dengan penuh hormat dan khidmat. Momen tersebut menjadi bagian penting dalam perayaan Ekaristi karena Gereja Katolik mengimani kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Itulah informasi mengenai konsekrasi Katolik. Semoga menambah wawasan ya, pembaca!