Artinya, masalahnya bukan sekadar "boleh atau tidak makan mi instan", tetapi bagaimana makanan tersebut ditempatkan dalam pola makan secara keseluruhan.
Jika sesekali ingin makan mi instan, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.
Pertama, jangan menjadikan mi instan sebagai satu-satunya komponen dalam satu kali makan. Tambahkan sayuran seperti sawi, bayam, wortel atau brokoli agar makanan mendapatkan tambahan serat, vitamin, dan mineral.
Sumber protein juga bisa ditambahkan, misalnya telur, tahu, tempe atau sumber protein lainnya.
Dokter spesialis gizi klinik dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Luciana Sutanto, juga menyarankan masyarakat mencermati jumlah bumbu yang digunakan.
"Jika bumbu yang dimasukkan jumlah atau kadarnya berlebihan ... tentu akan menimbulkan masalah kesehatan," kata Luciana kepada NadiKabar. Ia juga menyarankan memasak mi sesuai petunjuk pada kemasan dan menambahkan sayuran serta sumber protein agar kandungan gizinya lebih lengkap.
Selain itu, perhatikan label kandungan gizi pada kemasan. Jika dalam satu hari sudah mengonsumsi makanan lain yang tinggi garam, sebaiknya jangan menambah terlalu banyak makanan tinggi natrium lainnya.