Bagi kreator, kemampuan menggeser klip video atau memanipulasi objek langsung di layar berpotensi membuat pekerjaan lebih intuitif. Meski demikian, layar sentuh belum tentu menggantikan presisi trackpad dan keyboard, terutama untuk pekerjaan detail dalam waktu lama.

MacBook Pro terbaru turut mengadopsi Dynamic Island yang sebelumnya menjadi ciri khas iPhone. Fitur ini memungkinkan pengguna melihat informasi penting, menerima AirDrop, memantau aktivitas, menjawab panggilan, hingga mengontrol musik dari bagian atas layar.

Kehadiran Dynamic Island menarik karena Apple tidak sekadar memindahkan fitur iPhone ke Mac, tetapi mengintegrasikannya dengan pengalaman desktop. Fitur ini berpotensi membuat multitasking lebih praktis, meski kegunaannya ketika banyak aplikasi terbuka masih perlu diuji.

Untuk dapur pacu, Apple menyediakan pilihan chip M5 Pro dan M5 Max. Keduanya dibekali Neural Accelerator pada setiap inti GPU, peningkatan kemampuan grafis, serta ray tracing generasi ketiga.

Chip tersebut dirancang menangani pekerjaan berat, mulai dari rendering 3D, pengeditan video 8K, pengembangan aplikasi, hingga pemrosesan model AI secara lokal.

Apple bahkan mengklaim M5 Max mampu menjalankan model bahasa besar dengan ratusan miliar parameter langsung di perangkat. Kemampuan ini didukung unified memory hingga 128GB dan penyimpanan SSD hingga 16TB.

Bagi pengembang AI, kemampuan menjalankan model secara lokal dapat membantu proses pengujian tanpa harus selalu mengirim data ke server eksternal. Pendekatan ini berpotensi mengurangi latensi sekaligus memberikan kontrol lebih besar terhadap data sensitif.

Meski demikian, performa sebenarnya tetap bergantung pada ukuran model AI, teknik optimasi, dan konfigurasi perangkat yang digunakan.

Dari sisi desain, MacBook Pro terbaru lebih tipis dan ringan. Model 14 inch kini berbobot sekitar 1,38 kg, atau 0,23 kg lebih ringan dari sebelumnya. Sementara versi 16 inch memiliki bobot sekitar 1,82 kg, berkurang 0,32 kg dibandingkan generasi sebelumnya.