Araghchi menyebut pesan dari Vance, beserta upaya AS untuk membuka dialog dan mencapai pemahaman yang lebih luas, dapat dianggap sebagai langkah positif.
Mengenai usulan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, dengan syarat tujuh ketentuan Iran dipenuhi, Araghchi mengatakan: "Qatar meminta agar waktu yang diperlukan untuk melaksanakan usulan kami dipersingkat menjadi lima hari. Saat ini, sedang dibahas usulan untuk mempersingkat periode tersebut menjadi dua hari."
Araghchi menyatakan bahwa negaranya tidak menutup kemungkinan terjadinya perang, seraya menegaskan kesiapan Iran menghadapi segala skenario.
Dia menjelaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada diterimanya rute transit baru yang ditetapkan oleh Iran dan Oman, serta penutupan rute-rute alternatif lainnya.
Dia juga menyampaikan bahwa negaranya menuntut agar AS memulihkan pengecualian sanksi terkait penjualan minyak Iran dan mencairkan seluruh aset Iran yang dibekukan, termasuk aset yang berada di Qatar.
Sebelumnya, The Wall Street Journal, dengan mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa Vance telah mengirimkan pesan kepada Rezaei atas arahan Presiden AS Donald Trump untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai.