"Karena ketika buahnya banyak melimpah, kita mikir ini mau diapain. Makanya saya coba olah jadi produk," kata Deden.
Dari berbagai olahan tersebut, selai menjadi produk yang paling siap dipasarkan. Selai anggur kemasan 250 mililiter dijual Rp50 ribu.
Produk tersebut telah mengantongi P-IRT dan label halal. Selai juga menjadi salah satu produk yang dibawa ketika Kebun Anggur Brazil mengikuti kegiatan pameran.
Sementara wajit anggur yang masih tergolong baru dijual Rp20 ribu per cup berisi 15 buah. Adapun jus anggur dibanderol Rp15 ribu.
Untuk pemasaran, Deden mengakui produk olahan Anggur Brasil tersebut belum memiliki pasar yang luas. Penjualan secara online saat ini lebih banyak diarahkan untuk produk selai.
"Kalau dijual secara online lebih ke selai. Kalau wajit juga karena memang baru-baru ini," ujarnya.
Beragam olahan tersebut menjadi cara Deden memanfaatkan hasil panen ketika buah Anggur Brasil melimpah. Selain dijual dalam bentuk buah segar, anggur diolah menjadi minuman hingga makanan dengan bentuk dan nilai jual berbeda.
Ke depan, Deden juga berencana mengembangkan olahan lainnya. Salah satunya mengeringkan buah Anggur Brasil hingga menyerupai kismis.
Ia bahkan sempat mencoba mengolahnya lebih lanjut menjadi bubuk seperti kopi. Namun, percobaan tersebut belum berhasil karena tingkat kekeringan buah belum sesuai untuk diproses menggunakan alat yang tersedia.