NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai Indonesia perlu mencontoh China dalam mengelola sumber daya alam (SDA), khususnya melalui hilirisasi logam tanah jarang.

Menurut dia, China tak hanya mengolah mineral untuk menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjadikannya sebagai alat tawar dalam hubungan geopolitik.

Bahlil mencontohkan bagaimana produk hasil hilirisasi logam tanah jarang menjadi salah satu faktor dalam tarik-menarik kepentingan China dan Amerika Serikat (AS). Padahal, pada era 1980-an, logam tanah jarang belum banyak dipandang sebagai bahan baku penting bagi perkembangan teknologi.

"China hari ini melakukan diplomasi dengan Amerika itu tarik-menariknya dengan hasil industri hilirisasi daripada logam tanah jarang yang pada tahun-tahun 80-an logam tanah jarang itu orang belum berpikir akan menjadi satu bahan baku yang penting bagi perkembangan teknologi," kata Bahlil dalam acara Opening Ceremony Minerba Convex 2026 di Jiexpo Convention Center, Jakarta Pusat, Senin (2/11).

Ia mengatakan pengelolaan SDA Indonesia perlu diarahkan agar tidak hanya berorientasi pada penjualan bahan mentah.

Menurut dia, kekayaan mineral yang dimiliki Indonesia seharusnya diolah di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi RI dalam perdagangan global.

Bahlil mengingatkan pengelolaan kekayaan alam harus mengacu pada Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Aturan tersebut mengamanatkan SDA dikuasai negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.