"Bangunannya udah dimakan usia," katanya.

Rosidi mengatakan sejumlah pengunjung, khususnya anak muda, justru meminta agar bangunan tua tersebut tidak dicat ulang. Mereka menilai tampilan lama itu menjadi latar foto yang menarik.

"Pesannya sampai sekarang tuh kalau ketemu, 'Bang, jangan dicat, ya!'" kata Rosidi.

Dia menyebut nuansa bangunan tua tersebut kerap disamakan dengan suasana di Brasil hingga Hong Kong. Namun, keputusan terkait kondisi bangunan tetap berada pada pemilik bangunan yang berada di sekitar stadion.

"Ini kayak di Brasil, kayak di Hong Kong gitu. Cuman kita balikin lagi ke yang punya ruko," ujarnya.

Rosidi mengatakan pengecatan atau perbaikan tetap dilakukan apabila terdapat bagian bangunan yang mengalami kerusakan, misalnya kebocoran. Namun, untuk tampilan lama yang menjadi daya tarik, pengelola tidak ingin menghalangi keinginan pengunjung.

Stadion Taman Sari kini tak hanya menjadi tempat berolahraga. Bangunan di sekitar lapangan juga dimanfaatkan sebagai latar foto.