"Salah satunya mungkin yang kita bedah pada malam hari ini, yaitu sebuah kitab yang berjudul Penyirep Gemuruh karya Kiai Wahab," ujarnya.
Ayung juga menjelaskan bahwa kitab tersebut sebenarnya tidak hanya tersimpan di Pesantren Lateng Banyuwangi. Menurutnya, naskah serupa pernah berada di kantor PCNU Surabaya di Jalan Bubutan, tetapi belum banyak mendapatkan perhatian.
Ia menyebut Komunitas Pegon menjadi salah satu pihak yang pertama kali mempublikasikan kitab tersebut sehingga keberadaan Penyirep Gemuruh mulai dikenal masyarakat luas.
Penerjemah kitab Penyirep Gemuruh, Fathul H Panatapraja, menjelaskan bahwa buku tersebut mengulas kiprah KH Abdul Wahab Hasbullah dalam meredam konflik terkait perluasan Masjid Paneleh Surabaya.
Masjid tersebut dalam kisah yang tertuang di kitab disebut memiliki keterkaitan dengan sejarah Sunan Ampel. Dalam menyelesaikan persoalan iru, KH Wahab Hasbullah menggunakan pendekatan keagamaan, khususnya melalui perspektif hukum fikih.
"Proses penyelesaian konflik yang diselesaikan Mbah Wahab tidak hanya lewat pendekatan dialog, tapi pencarian solusi dari sudut pandang hukum fikih," ujar Fathul.
Menurut Fathul, pendekatan yang dilakukan KH Wahab Hasbullah menunjukkan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman agama, dialog, serta kemampuan membaca kondisi sosial masyarakat. Ia menilai cara Mbah Wahab dalam menghadapi konflik tersebut masih relevan untuk dipelajari, terutama dalam konteks penyelesaian berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat saat ini.