NADIKABAR.COM — Di tengah aktivitas yang padat, tubuh dan pikiran terkadang membutuhkan jeda untuk beristirahat. Pekerjaan, masalah pribadi, hingga paparan informasi yang terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tegang dan sulit menenangkan pikiran.

Bagi sebagian orang, rutinitas ibadah menjadi salah satu cara untuk mengambil jeda tersebut. Berdoa, membaca kitab suci, berzikir, atau menjalankan shalat dapat memberikan waktu untuk memusatkan perhatian dan menjauh sejenak dari kesibukan.

Lantas, benarkah rutinitas ibadah bisa membantu tubuh lebih rileks? Sejumlah penelitian mengenai praktik spiritual dan meditasi menunjukkan adanya potensi manfaat terhadap stres dan kecemasan. Namun, efeknya bergantung pada jenis aktivitas, pengalaman pribadi, serta kondisi masing-masing individu.

Stres merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi tekanan. Dalam situasi tertentu, tubuh dapat mengalami peningkatan detak jantung, ketegangan otot, dan perubahan pola pernapasan.

Rutinitas ibadah dapat menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari sumber tekanan. Ketika seseorang berdoa atau beribadah dengan tenang, perhatian dapat dialihkan dari kesibukan menuju aktivitas yang dianggap bermakna.

Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Internal Medicine pada 2014 menganalisis 47 uji klinis dengan total 3.515 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa program meditasi berbasis perhatian penuh atau mindfulness dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi dalam tingkat kecil hingga sedang.

Temuan tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa semua bentuk ibadah memberikan efek yang sama. Namun, hasilnya memberi gambaran bahwa aktivitas yang melibatkan pemusatan perhatian dan ketenangan dapat membantu sebagian orang mengelola tekanan psikologis.

2. Memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat