Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menerangkan bahwa abu vulkanik mengandung silika, yaitu serpihan kaca yang tajam dan dapat merusak. Zat ini berbahaya jika masuk ke hidung, mata, ataupun saluran pernapasan.
"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena, tim redaksi lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," kata Dicky, dihimpun dari keterangan resmi.
Sementara menurut penjelasan USGS, abu vulkanik terdiri dari partikel-partikel kecil bergerigi dari batuan dan kaca alami. Abu tersebut merupakan partikel pecahan, bukan hasil bakaran api seperti abu lembut dari bakaran kertas atau kayu.
British Geological Survey (BSG) merinci bahwa bentuk abu vulkanik adalah serpihan kecil, tajam, dan bersudut. Ini yang menyebabkan sifatnya merusak, termasuk bisa membahayakan pesawat.
Mengutip World Meteorological Organization (WMO), abu vulkanik dan gas yang masuk ke mesin pesawat bisa berdampak buruk saat terbang. Selain bisa menyebabkan mesin mati, abu bisa memicu erosi pada komponen avionik, menyebabkan penyumbatan filter dan saluran pipa, serta penurunan kualitas bahan bakar.
Karena bahaya ini, WMO memiliki International Airways Volcano Watch (IAVW) untuk memantau dampak letusan gunung api pada dunia penerbangan.