Data Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) juga menunjukkan tren positif, di mana industri kreatif berhasil menyerap 26,48 juta tenaga kerja atau setara 18,30% dari total angkatan kerja.
Secara spesifik, Jawa Barat mengukuhkan posisinya sebagai penyumbang terbesar dengan 6,24 juta pekerja di sektor Ekraf. Ini merupakan capaian tertinggi di tingkat nasional, mengungguli Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Meski berbahan dasar tumbuhan liar, kualitas kerajinan hatta ini telah diakui di kancah internasional. Produk besutan Mitra Saluyu ini bahkan sudah merambah pasar Eropa.
Melalui sistem kerja sama dengan pihak ketiga, produk kerajinan hatta milik Niki telah diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Swiss, Italia, hingga Vietnam. Hal ini membuktikan kekayaan alam lokal mampu bersaing di level global.
Dalam satu kali pengiriman, Niki mampu mengirimkan puluhan tas rajutan hatta dengan nilai mencapai jutaan rupiah per buahnya. Usaha ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Niki menjelaskan bahwa harga produk yang ditawarkan sangat variatif dan terjangkau, mulai dari Rp10.000 untuk aksesori gelang. Sedangkan untuk produk besar seperti keranjang pakaian (laundry basket), harga disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatannya.
Keberadaan UMKM Kerajinan Hatta Niki tidak sekadar mengejar profit, tetapi juga menjadi pilar ekonomi bagi warga lokal.
"Bahan baku rumput Hatta ini tumbuhan liar di hutan yang tidak bisa dibudidayakan. Kami mengambilnya dari tiga kabupaten, yakni Ciamis, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Penghasilan para pencari dan pengrajin bahan baku bisa mencapai Rp500 ribu per hari, bahkan bisa lebih dari Rp1 juta untuk sekali pengiriman borongan," jelasnya.
Dari ketekunannya tersebut, bisnis keluarga ini mampu meraup omzet lebih dari Rp100 juta per bulan, yang berasal dari penjualan produk jadi serta pengiriman bahan baku.
"Kami juga suplai hatta untuk pengrajin di wilayah Lombok dan Bali. Alhamdulillah jadi pemasok pengrajin disana," kata dia.
Niki mengungkapkan bahwa jangkauan pasarnya semakin luas berkat pemanfaatan platform digital. Transformasi ke pasar daring membuat kerajinan hatta miliknya dikenal hingga ke pelosok daerah.
"Jadi kalo untuk belinya produk aja itu banyak ke berbagai daerah. Namun untuk bahan baku kita kirimnya ke Bali dan Lombok. Semuanya tahu berkat buka penjualan online," kata Niki.
Ia merasakan manfaat besar dari perdagangan daring yang mempertemukannya dengan banyak pembeli potensial (buyer). "Kan kalo ekspor atau kirim keluar ada pihak ketiga mereka biasanya bayar dimuka," katanya.
Pada awalnya, Niki sempat kesulitan meyakinkan orang tuanya yang masih gagap teknologi (gaptek). Mereka sempat ragu dengan transaksi digital karena tidak bertatap muka langsung dengan pembeli. "Kalo orang tua kan khawatir aja, jadi takutnya jahat. Setelah saya yakinkan alhamdulillah mau dan menuruti," ucapnya.
Kini, penjualan secara online terus menunjukkan tren positif. "Sekarang kalo dibandingkan sebetulnya masing banyakan yang offline, cuman online itu terus meningkat," katanya.
Kesuksesan kerajinan hatta ini tidak lepas dari upaya membangun kepercayaan pasar. Berbagai ajang pameran besar telah membawa produk asal Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran ini melanglang buana hingga ke ibu kota.
"Pertama berkat bantuan pemerintah kami juga diajak pameran kriya di beberapa daerah. Waktu keluar kota di Jakarta banyak yang suka, kemudian di Bandung. Hingga suatu saat kami diajak ke Lombok," kata Niki.
Keikutsertaan dalam pameran membuahkan banyak pesanan berulang (repeat order). "Setelah beberapakali pameran banyak yang repeat order karena suka produknya," kata dia.
Dampaknya, rumput hutan yang dulunya dianggap hama oleh pemilik perkebunan kini justru menjadi komoditas yang dicari. Bahkan, banyak pemilik lahan yang meminta agar rumput tersebut dibersihkan dari lahan mereka.
"Banyak juga pemilik kebun ataupun tanah yang minta untuk diambilkan daun hattanya sehingga bagi kami itu adalah peluang. Karena mereka pun tidak dibayar," katanya.
Dalam perjalanannya, Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu pendukung utama. Niki mengakui bahwa keterlibatan BI dalam setiap pameran selalu memberikan dampak positif bagi usahanya. "Karena kalo event yang bekerjasama dan dibuat BI pasti ramai," kata dia.
"Seperti ketika saat ini diikutkan pameran UMKM di pameran Pesawat Pangandaran. Ramai abis kerajinan gelang dan souvenir kecilnya," ucapnya.