NADIKABAR.COM — Pemerintah Inggris meminta warganya untuk bersiap menghadapi perang dalam 1.000 hari ke depan alias pada 2030 nanti. Peringatan ini membuat warga setempat ramai-ramai langsung menyiapkan stok makanan kaleng hingga air minum kemasan.
Melansi The Independent, Senin (2/11/2026), imbauan pemerintah Inggris terkait persiapan perang pertama kali disampaikan oleh Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting dalam tulisannya di surat kabar The Telegraph. Dalam tulisan itu ia memperingatkan bahwa pihak-pihak yang memusuhi Inggris mungkin akan siap melancarkan serangan pada tahun 2030.
"Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang telah berubah adalah kapasitas mereka. Menjelang tahun 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk melakukan serangan," tulis Streeting.
"Hal itu memberi kita waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu-sekutu kita untuk bertempur dan meraih kemenangan," sambungnya.
Meski Streeting tidak menulis secara langsung negara mana yang membawa ancaman perang ini, namun permintaannya kepada warga Inggris merujuk pada potensi agresi Rusia. Dia mengatakan warga Inggris harus siap menghadapi skenario terburuk.
Tak hanya Inggris, ia bahkan juga meminta NATO juga bersiap untuk menghadapi perang melawan Rusia. Terlebih mengingat bagaimana Rusia sering berselisih dengan NATO yang mendukung Ukraina dalam perang yang sudah berlangsung sejak 2022 lalu.
"Setiap negara di aliansi NATO menghadapi tantangan serupa di tengah meningkatnya ancaman dan semakin ketatnya keuangan," kata Streeting dalam tulisannya.
Untuk itu, ia mengajak negara-negara Uni Eropa untuk saling bekerja sama, termasuk dalam perluasan sektor industri di masing-masing negara. Menurutnya hal ini perlu dilakukan demi menjamin ketersediaan rantai pasok domestik demi persiapan perang melawan Rusia.
"Dengan bekerja bersama, kita dapat membangun kemampuan manufaktur di dalam negeri sehingga kita dapat mengirimkan barang lebih cepat dan pada akhirnya memperkuat NATO, yang merupakan kepentingan kita semua," terang Streeting.
Selain potensi perang, pernyataan Streeting ini disampaikan di tengah kampanye pemerintah Inggris untuk mempersiapkan warganya dalam menghadapi kemungkinan terganggunya layanan-layanan penting karena berbagai alasan.
Dalam hal ini, setiap warga Inggris diimbau untuk menyediakan persediaan air minum kemasan sebanyak 9 liter dan cadangan makanan untuk 3 hari, guna memastikan mereka dapat bertahan dalam situasi darurat-baik akibat cuaca ekstrem, serangan siber, maupun krisis kritis lainnya.
Masyarakat juga diimbau untuk menyiapkan persediaan berupa selimut, uang tunai, kotak pertolongan pertama (P3K), senter beserta baterainya, serta radio FM yang dapat dioperasikan dengan memutar tuas (tanpa baterai).
Jika terjadi krisis nasional, BBC akan memprioritaskan penyiaran berita serta informasi terkait kesehatan dan keselamatan. Saat terjadi pemadaman listrik besar-besaran, radio FM menjadi sarana terbaik untuk mendapatkan informasi terkini tersebut.
Bahkan melalui situs resmi, pemerintah Inggris juga telah menerbitkan daftar periksa perlengkapan darurat yang dapat diunduh masyarakat. Akibatnya penjualan makanan kaleng, radio putar, dan senter semuanya melonjak sejak panduan pemerintah yang diperbarui diumumkan.
"Sangat menggembirakan bahwa orang-orang mengambil langkah-langkah praktis untuk bersiap-siap," kata Streeting dalam wawancara kepada BBC Newsnight seperti dikutip dari The Independent.
"Memiliki beberapa kebutuhan pokok sehari-hari di rumah, mulai dari makanan kaleng hingga senter, membantu rumah tangga bersiap menghadapi gangguan, baik itu banjir, pemadaman listrik, atau pipa pecah. Kita semua dapat berperan dalam menjadikan Inggris lebih tangguh," ujarnya lagi.