Perseroan juga memperkirakan kebutuhan operasional pada 2026 mencapai 105 trainset, sedangkan jumlah sarana yang tersedia pada awal tahun baru 102 rangkaian.

Kondisi ini diperberat keterlambatan pengiriman sembilan dari 16 trainset pesanan kepada INKA. Dari jumlah tersebut, baru tujuh rangkaian yang telah beroperasi.

Bobby saat itu menyebut impor menjadi salah satu opsi untuk menutup kekurangan armada pada 2026 dan 2027, sembari menunggu peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

"Bagaimana kita menutup 2026, 2027 dulu. Jadi salah satunya yang kami akan usulkan itu adalah kita tambal dulu dengan melakukan impor," ujar Bobby dalam rapat tersebut.

Menurut Bobby, KRL bekas Jepang dipilih karena waktu pengadaannya lebih singkat, yakni sekitar satu hingga dua bulan, dibandingkan kereta baru yang membutuhkan waktu satu hingga dua tahun sejak pemesanan hingga pengiriman.

Sistem perkeretaapian Jepang juga dinilai sesuai dengan yang digunakan di Indonesia, termasuk rel, lebar jalur, dan listrik aliran atas (LAA).

"Kenapa Jepang? Karena sistem perkeretaapian kita di sini itu cocok dengan sistem perkeretaapian yang ada di Jepang. Jadi relnya, lebar jarumnya, kemudian listriknya, LAA-nya, itu kita itu identik sekali dengan Jepang. Kita tidak bisa impor dari tempat yang lain karena memang sistemnya berbeda," jelasnya.