NADIKABAR.COM — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan pentingnya inovasi kesehatan guna menjawab berbagai tantangan kesehatan global, salah satunya penyakit langka yang memengaruhi sekitar 300 juta orang di seluruh dunia.

"Dari lebih 7.000 penyakit langka yang telah teridentifikasi, sekitar 95 persen belum memiliki terapi yang disetujui. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesiapan regulasi untuk mengawal perkembangan terapi inovatif," kata Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Taruna menjelaskan bahwa tantangan kesehatan global, seperti ancaman penyakit lintas negara, resistansi antimikroba, kompleksitas rantai pasok, dan perkembangan teknologi yang pesat, menuntut sistem regulasi yang adaptif serta berbasis sains.

Di tengah tantangan tersebut, BPOM terus memperkuat pengawasan berbasis risiko, pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah, serta kolaborasi dengan mitra nasional dan internasional. Upaya ini dilakukan untuk memastikan keamanan, khasiat, dan mutu produk sepanjang siklus hidupnya, sekaligus mendukung pengembangan inovasi obat dan pangan yang bertanggung jawab.

Selain itu, dia juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam pengembangan obat bahan alam. Dengan kekayaan biodiversitas yang melimpah, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan pengetahuan tradisional dan sumber daya alam menjadi produk kesehatan yang terstandardisasi dan didukung bukti ilmiah.

Karena itu, riset perlu dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat, pengembangan industri, dan akses terhadap produk yang aman serta bermutu. Dia pun mengajak mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk menjadi generasi ilmuwan dan pemimpin masa depan yang mampu menghadirkan inovasi bagi kesehatan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam keynote speech pada The 7th International Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPST) 2026, Rabu (21/10).

Mengusung tema “Advancing Pharmaceutical Sciences through Sustainability and Translational Innovation”, seminar internasional ini menjadi ruang bagi akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk memperkuat peran ilmu farmasi dalam menjawab tantangan kesehatan global.

Dalam kesempatan tersebut, Taruna turut menekankan pentingnya neuroleadership, yaitu pendekatan kepemimpinan yang memanfaatkan pemahaman tentang ilmu saraf untuk meningkatkan cara berpikir, berperilaku, berkolaborasi, dan mengambil keputusan.

Menurutnya, kepemimpinan yang efektif membutuhkan integritas, tata kelola yang baik, kemampuan berpikir terintegrasi, serta keberanian mengambil keputusan berdasarkan data dan bukti ilmiah.

“Untuk mewujudkan mimpi besar, kita membutuhkan kapasitas untuk bermimpi, kegigihan, dan keyakinan untuk mencapainya,” katanya untuk memotivasi peserta.

Pesan tersebut menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan perlu diiringi pola pikir bertumbuh (growth mindset), ketangguhan menghadapi tantangan, dan komitmen untuk terus belajar.

dia juga mengajak perguruan tinggi untuk mengambil peran strategis dalam ekosistem inovasi melalui riset berdampak tinggi, pengembangan talenta unggul, dan penerapan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata. Kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah menjadi kunci agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Melalui partisipasi dalam ISPST 2026, BPOM mendorong mahasiswa farmasi untuk tidak hanya menjadi tenaga profesional yang unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga menjadi inovator dan pemimpin yang berintegritas.

Dengan memadukan sains, teknologi, dan kolaborasi, generasi muda diharapkan mampu berkontribusi dalam memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat, meningkatkan daya saing industri farmasi dan pangan, serta mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan berkelanjutan.