Sumatra Selatan tercatat memiliki 733 brigade, Sumatra Utara 392, Kalimantan Selatan 402, Kalimantan Tengah 367, dan Sulawesi Selatan 411. Papua tercatat memiliki 376 brigade, Kalimantan Barat 326, dan Lampung 238.

Brigade tersebut tersebar di lahan rawa, dan non-rawa hingga kawasan cetak sawah baru. Pemerintah membangun basis lahan untuk produksi terlebih dulu melalui kawasan optimalisasi lahan (OPLAH) dan Cetak Sawah Rakyat. Lahan yang belum optimal ini kemudian didorong menjadi produktif, lalu dikelola Brigade Pangan.

Setelah itu, Kementan mendukung pemanfaatan alsintan agar pengolahan tanah, penanaman, dan panen berlangsung lebih cepat dan efisien. Melalui BPPSDMP, petani dan pengelola brigade juga mendapat pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan pendampingan.

Materinya mencakup teknik budidaya, manajemen usaha, kepemimpinan, kewirausahaan, pengelolaan keuangan, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan usaha. Penyuluh membantu dan mendampingi kegiatan ini disesuaikan dengan karakter wilayah dan kebutuhan petani.

"Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh pertanian bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi yang optimal," ujar Idha.

Seiring berkembangnya usaha, kebutuhan modal ikut meningkat. Akses terhadap KUR dan pembiayaan alsintan menjadi bagian ekosistem pengembangan brigade.

Brigade juga didorong membangun hubungan dengan pemilik lahan, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, offtaker, dan pasar. Rangkaian intervensi ini menunjukkan pemerintah tidak hanya membentuk brigade, tetapi juga menumbuhkan kelembagaannya menuju kemandirian.

"Target kita bukan hanya membuka lahan, tetapi memastikan lahan tersebut benar-benar ditanami. Percepatan tanam terus dijaga dengan pengawalan penyuluh serta kesiapan petani untuk langsung menanam tanpa menunggu kondisi sempurna, sementara kendala teknis diselesaikan secara paralel," kata Idha.

Salah satu contoh datang dari Desa Dungun Laut, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Brigade Pangan Tekad Pemuda di sana mengelola sekitar 191 hektare lahan optimalisasi, yang sebagian merupakan rawa pasang surut dengan tantangan tata air dan kondisi tanah.