Menurut Maruarar, keberhasilan KPP pada akhirnya tidak cukup hanya diukur dari besarnya pembiayaan yang tersalurkan. Program tersebut harus mampu mendorong pelaku UMKM tumbuh menjadi pengusaha dengan skala usaha yang semakin besar.
“Kita baru bangga kalau 10 atau 15 tahun lagi, UMKM yang kita temui hari ini mengatakan, waktu itu saya masih UMKM, tetapi 10 tahun kemudian saya sudah naik kelas menjadi perusahaan besar yang sukses,” kata Maruarar.
Lebih jauh, Maruarar menekankan bahwa sektor perumahan memiliki dampak berantai yang luas terhadap perekonomian. Aktivitas pembangunan rumah tidak hanya menggerakkan developer dan kontraktor, tetapi juga menyerap tenaga kerja serta menciptakan permintaan terhadap bahan bangunan, transportasi, industri manufaktur hingga berbagai usaha masyarakat di sekitar proyek.
“Ekosistem perumahan sangat luar biasa. Pengembang, developer, kontraktor, toko bangunan, UMKM, semuanya harus solid supaya kita bisa menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Maruarar pun mendorong BTN untuk terus bekerja keras dan melakukan terobosan dalam mempercepat penyaluran KPP. Sepanjang Januari hingga 9 September 2026, penyaluran KPP BTN telah mencapai Rp5,25 triliun dari target Rp10 triliun pada tahun ini.
“Targetnya besar, harapannya besar. Kerjanya juga harus besar, hatinya besar, jiwanya juga besar bagi Republik dan rakyat Indonesia,” tutup Maruarar.