"Jumlah patahan muda yang terungkap dalam citra LROC jauh lebih besar dari yang pernah saya bayangkan," kata Watters dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari IFL Science.
"Seiring dengan terus mendinginnya dan menyusutnya bagian dalam Bulan, diperkirakan pertumbuhan patahan yang ada dan pembentukan patahan baru terus berlanjut hingga saat ini," imbuhnya.
Studi yang dipublikasikan di The Planetary Science Journal ini menyebut pola patahan menunjukkan bahwa patahan tersebut merupakan fenomena yang relatif baru, bukan terjadi sejak Bulan terbentuk.
Para peneliti mengusulkan dua penjelasan untuk hal ini, 'megaregolith' yang bersifat isolasi, yakni lapisan luar berpori yang hingga baru-baru ini memperlambat pendinginan bagian dalam yang mendorong kontraksi, atau lapisan luar Bulan yang relatif elastis.
Bagaimanapun juga, ribuan patahan yang diungkapkan LROC melalui keberadaan 'tebing lobus', yaitu punggungan yang biasanya setinggi puluhan meter dengan satu sisi curam dan satu sisi landai, semuanya berasal dari Zaman Kopernikus di Bulan.