NADIKABAR.COM — Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas target penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tahun ini menjadi 15 perusahaan, dari target awal sebanyak 50 perusahaan. Revisi target ini tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026.

"15 (target IPO tahun ini)," ungkap Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Sementara untuk tahun depan, BEI menargetkan total pencatatan efek baru ditargetkan sebanyak 905 efek mencakup 25 IPO, 175 obligasi dan sukuk, dan 705 efek lainnya. Adapun rata-rata nilai transaksi harian yang ditargetkan tahun depan sebesar Rp 21 triliun, naik 16,7% dibanding RKAT 2026 yakni sebesar Rp 18 triliun dengan asumsi Rp 241 triliun.

Angka tersebut juga diketahui turun dari target yang ditetapkan tahun ini. Meski begitu, Jeffrey mengaku optimistis dengan prospek penawaran umum perdana saham tahun depan.

Jeffrey berharap kondisi pasar segera membaik. Meski begitu, ia melihat potensi pasar modal tetap besar, terutama seiring dengan langkah pemerintah membangun kawasan industri dan mendorong investasi di sektor manufaktur.

"Misalnya, pemerintah kan aktif mendirikan kawasan industri, mendorong perusahaan-perusahaan untuk berinvestasi di industri manufaktur, misalnya. Tentu, itu akan membutuhkan pembiayaan, salah satu potensi pembiayaannya tentu adalah melalui pasar modal," pungkasnya.

Adapun saat ini, diketahui baru terdapat tujuh perusahaan baru yang mencatatkan sahamnya di BEI. Ketujuh perusahaan tersebut adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).