Nilai ekonomi kerakyatan yang dihasilkan mencapai lebih dari Rp26 miliar per tahun dengan penerima manfaat lebih dari 283 ribu orang. Beberapa desa bahkan berhasil mengembangkan potensi wisatanya menjadi sumber pendapatan.
Ekowisata DEB Uma Palak di Denpasar menghasilkan Rp540 juta per tahun, sedangkan Kampung Kepiting di Cilacap mencapai Rp601 juta per tahun.
Selain membuka peluang ekonomi, program ini juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola energi terbarukan. Sebanyak 223 local hero telah mendapatkan sertifikasi sebagai operator energi baru terbarukan (EBT).
Di Desa Keliki, Ubud, misalnya, produktivitas pertanian meningkat. Frekuensi panen padi yang sebelumnya hanya sekali setahun kini menjadi hingga tiga kali, dengan hasil panen meningkat dari 3-4 ton menjadi 7 ton per hektare.
Manfaat energi terbarukan juga dirasakan saat masyarakat menghadapi situasi darurat. DEB Watumite di Ende mampu menjaga ketersediaan listrik dan internet ketika terjadi bencana.
Dari sisi lingkungan, program ini berkontribusi terhadap pengurangan emisi lebih dari 1,1 juta ton CO2 ekuivalen serta pengelolaan 145 ribu ton sampah per tahun. Pengembangannya turut didukung kolaborasi pentahelix. Bersama 13 perguruan tinggi, Pertamina telah menghadirkan 40 jenis teknologi tepat guna di 134 desa.
Bagi masyarakat, perubahan tersebut membuktikan bahwa energi dapat membuka kesempatan untuk mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, dan menjaga lingkungan.
Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina mendorong agar transisi energi berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat. Energi yang berkelanjutan bukan hanya tentang cara menghasilkan listrik, tetapi bahwa manfaatnya mampu menghidupkan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.