"Katong kalau beli obat itu,obat katong ada yang Rp 100.000, Rp 75.000. Tetapi penyakit katong ini sudah lama, jadi harus tetap beli," ucapnya.
Kini, ia bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis di rumah sakit kapal. Kesempatan tersebut dimanfaatkan meskipun ia harus menyeberangi laut dari Tual menuju Pulau Kei Besar sekitar 30 menit menggunakan kapal cepat.
Kedatangannya kali ini merupakan yang pertama. Ia mengetahui keberadaan rumah sakit kapal dari cerita orang lain dan berusaha datang untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Dengan bantuan tetangganya, ia mendatangi tempat pendaftaran pasien dan menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan dokter penyakit dalam.
"Katong dengar ini, katong kejar. Yang penting katong bisa sembuh dari sakit ini. Katong kejar pakai kapal cepat tadi 30 menit," ujarnya.
Ia berharap rumah sakit kapal dapat kembali hadir di wilayahnya. Kehadiran layanan tersebut dinilai membantu warga yang selama ini harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk berobat.
"Kalau rumah sakit kapal datang lagi, Mama mau ajak keluarga juga untuk berobat," tuturnya.
Cerita Agnes dan perempuan berusia 59 tahun itu bukan satu-satunya pengalaman yang ditemui tenaga kesehatan di Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II.
Josepha, perawat Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II mengatakan hampir setiap hari dirinya mendengar cerita pasien yang harus menempuh perjalanan jauh dengan biaya tidak sedikit demi mendapatkan pelayanan kesehatan.