"Volume air terus meningkat, begitu pula risikonya," kata peneliti dari Kementerian Sumber Daya Air China, Zhu Jinfeng.
Ancaman tersebut membuat tim penyelamat menghentikan sementara operasi di sekitar lokasi. Petugas dan kendaraan penyelamat mundur ke area yang lebih aman untuk mengantisipasi banjir mendadak, longsor, hingga runtuhan gunung.
Ilmuwan mempertimbangkan pembuatan saluran drainase pada bagian bendungan alami yang lebih rendah untuk mengurangi tekanan air. Namun, langkah tersebut membutuhkan perhitungan yang sangat cermat.
Chen Hanxiao, salah satu anggota tim teknik China, menjelaskan bahwa tim harus menentukan lebar dan kedalaman saluran berdasarkan kecepatan aliran air serta laju pengisian danau.
"Setelah runtuhnya gletser membentuk danau, banyak tebing terisolasi dan tebing curam muncul di sepanjang garis pantainya," ujarnya.
Medan yang curam membuat akses menuju danau menjadi sangat sulit. Pekerjaan pada bendungan alami yang tidak stabil juga memiliki risiko tersendiri. Kesalahan perhitungan dapat mengganggu struktur bendungan dan mempercepat keruntuhannya.
Jika bendungan alami terkikis atau runtuh, air dapat mengalir keluar dalam waktu sangat singkat. Aliran tersebut dapat membawa lumpur, batu, dan material lain ke wilayah hilir.
Fenomena itu dikenal sebagai glacial lake outburst flood (GLOF) jika berkaitan dengan danau gletser. Namun, danau yang terbentuk akibat material longsoran juga dapat memicu banjir mendadak ketika bendungan alaminya gagal menahan air.
Pakar longsor Himalaya dari University of Canterbury, Tom Robinson, menggambarkan danau tersebut seperti bendungan hidroelektrik yang tidak memiliki sistem untuk mengatur pelepasan air.