NADIKABAR.COM — Polemik tim redaksi pengelola Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Istiqamah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), tidak kunjung selesai. Perselisihan yang dipicu sengketa lahan keluarga tersebut mengakibatkan 700 siswa dalam kawasan SPIDI justru menjadi korban lantaran proses belajar mengajar terganggu.

Konflik lahan berkepanjangan itu memicu bentrokan di kawasan SPIDI, Kecamatan Mandai, Selasa (8/9/2026) pagi. Bentrokan melibatkan tim redaksi orang tua siswa SPIDI dengan massa dari Ponpes Darul Istiqamah yang diduga menduduki paksa lahan sekolah.

"Hei, kenapa kalian masuk, kenapa kalian masuk. Jangan masuk," teriak salah satu orang tua santri kepada pihak Pesantren Darul Istiqamah di lokasi.

Sejumlah orang tua siswa SPIDI terlibat saling dorong dan adu mulut dengan massa. Beberapa orang tua lainnya tampak berjaga di depan pintu saat siswa masih menjalani proses belajar mengajar.

Kericuhan sempat berlangsung selama sejam hingga akhirnya polisi turun menenangkan massa. Kedua pihak sempat terlibat saling provokasi sehingga keributan kembali terjadi.

Tim Marcom alias Humas SPIDI Maros, Minar menjelaskan, bentrokan itu bermula dari aksi kubu ponpes yang menerobos dan menduduki kawasan SPIDI sejak Jumat (4/9) sore. Sejumlah fasilitas sekolah dijadikan sebagai tempat beraktivitas massa.

"Mereka masuk dan menduduki secara paksa lingkungan sekolah, melakukan aktivitas seperti memasang tenda, menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kelas," kata Minar kepada NadiKabar, Rabu (9/9).

Upaya kubu ponpes yang menduduki lahan kawasan SPIDI itu berlangsung selama beberapa hari. Belakangan ada pemasangan garis polisi (police line) di depan area portal sekolah yang terkait perkara sengketa lahan.

"Awal masalahnya itu dari adanya pemasangan police line di depan portal. Pihak Darul Istiqamah ini marah karena dipasangkan police line di situ," ucapnya.

Kubu dari ponpes pun marah hingga akhirnya memicu keributan di kawasan SPIDI saat siswa sementara belajar dalam kelas. Orang tua siswa yang merasa anaknya terganggu pun melakukan perlawanan hingga terjadi bentrokan.

Minar menuturkan, aksi massa dari kubu ponpes dianggap mengancam keamanan siswa. Proses belajar mengajar tidak hanya terganggu, tetapi juga bisa mengganggu psikologi siswa di SPIDI Maros.

"Orang tua siswa protes karena mereka mengkhawatirkan ada intimidasi. Anak-anak jadi tidak bisa belajar dengan aman di sekolah," ungkap Minar.