NADIKABAR.COM — Dexa Group menerima penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau 2026 untuk kategori Apresiasi atas Inisiatif Kemitraan dengan Petani Lokal dalam Green Pharmacy. Penghargaan tersebut diterima oleh Head of Corporate Communications Dexa Group Sonny Himawan.
Penghargaan diserahkan oleh Pimpinan Redaksi NadiKabar.com Ardhi Suryadhi sebagai bentuk apresiasi terhadap inisiatif Dexa Group dalam mengembangkan konsep Green Pharmacy melalui kemitraan dengan petani lokal. Dexa Group memperkuat ekosistem farmasi nasional dengan memberdayakan 413 petani di 34 kabupaten pada 11 provinsi untuk memasok bahan baku obat berbasis kekayaan hayati Indonesia.
"Green Pharmacy menjadi bagian dari upaya untuk memastikan kekayaan alam Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi komoditas pertanian, memperkuat rantai pasok domestik, serta mendukung kemandirian dan ketahanan farmasi nasional," kata Sonny.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya hayati Indonesia. OMAI adalah obat yang diambil dari kekayaan alam Indonesia dan dikembangkan dengan teknologi modern. OMAI terdiri dari Obat Herbal Terstandar (OHT) yang telah lulus uji praklinis, dan fitofarmaka yang telah lolos uji klinis. Saat ini, 29 dari 96 OHT dan 24 dari 29 fitofarmaka yang terdaftar adalah hasil produksi Dexa Group.
Dexa Group mengembangkan OMAI dari beragam kekayaan hayati Indonesia, mulai dari daun meniran, daun bungur, legundi, daun torbangun, daun saga, buah mahkota dewa, hingga kayu manis. Selain tanaman, pengembangan OMAI juga memanfaatkan sumber daya hayati lainnya seperti cacing tanah dan ikan gabus.
Sejumlah produk yang dihasilkan dari riset tersebut tim redaksi lain Inlacin dan Diabetadex yang dikembangkan dari daun bungur dan kulit kayu manis untuk sistem metabolik. Ada pula Redacid yang dikembangkan dari kulit kayu manis untuk sistem pencernaan serta Stimuno yang dikembangkan dari meniran untuk sistem imun Produk-produk tersebut telah bersertifikat Fitofarmaka dan telah diresepkan oleh dokter di dalam maupun luar negeri.
Para petani mendapatkan pemberdayaan dan pelatihan untuk menghasilkan bahan baku sesuai dengan kebutuhan industri serta memenuhi standar industri farmasi. Dengan pendekatan tersebut, petani tidak hanya berperan sebagai pemasok komoditas, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pengembangan bahan baku obat berbasis kekayaan hayati Indonesia.
Bahan-bahan alam tersebut kemudian dikembangkan melalui riset dan teknologi modern Tandem Chemistry Expression Bioassay System (TCEBS). Melalui serangkaian proses riset dan uji klinis, bahan alam tersebut dikembangkan menjadi OMAI dengan efektivitas yang teruji serta memenuhi standar industri farmasi.
Sejumlah produk OMAI hasil pengembangan tersebut tim redaksi lain Inlacin dan Diabetadex yang dikembangkan dari daun bungur dan kulit kayu manis untuk sistem metabolik, Redacid dari kulit kayu manis untuk sistem pencernaan, serta Stimuno dari meniran untuk sistem imun. Produk-produk tersebut telah memperoleh sertifikat Fitofarmaka dan telah diresepkan oleh dokter, termasuk di sejumlah negara seperti Filipina, Kamboja, dan Nigeria.
Pengembangan OMAI melalui bahan baku lokal menjadi bagian dari upaya Dexa Group memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia sekaligus melengkapi ketersediaan obat kimia. Pemanfaatan sumber daya lokal juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah terhadap komoditas pertanian, memperkuat rantai pasok domestik, serta berkontribusi dalam meminimalkan jejak karbon.
Melalui pendekatan Green Pharmacy, Dexa Group membangun ekosistem yang menghubungkan kekayaan hayati Indonesia, petani lokal, riset dan inovasi industri farmasi, serta kebutuhan kesehatan masyarakat. Ekosistem tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung kemandirian dan ketahanan farmasi nasional melalui penguatan sumber bahan baku dan inovasi obat dari dalam negeri.