Apudin menyebut banyak warga binaan memiliki dasar atau pengalaman sebagai petani sehingga kebutuhan tenaga di bidang pertanian relatif mudah dipenuhi.
Namun, kesempatan untuk bekerja di luar lapas tidak diberikan begitu saja.
Ada sejumlah persyaratan dan tahapan yang harus dilalui. Warga binaan harus mengikuti penelitian kemasyarakatan atau litmas, memenuhi ketentuan terkait masa pidana, menjalani sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP), serta memiliki penjamin dari keluarga.
Selama bekerja di luar, mereka juga tetap mendapatkan pendampingan petugas.
Proses tersebut memperlihatkan bahwa asimilasi bukan sekadar memberikan ruang kepada warga binaan untuk keluar dari lapas. Ada proses seleksi, penilaian, pengawasan, dan pendampingan yang menyertainya.
Pada akhirnya, cerita tentang kue kering, pakcoy, ikan, dan maggot di Lapas Indramayu bukan semata cerita tentang produk. Ia adalah cerita tentang kesempatan kedua.
Beberapa kotak snack yang dipesan instansi, satu bungkus kue kering yang dibeli masyarakat, atau hasil panen hidroponik yang diambil reseller mungkin terlihat sebagai transaksi biasa.
Namun bagi warga binaan yang membuatnya, setiap transaksi menjadi pengingat bahwa keterampilan mereka memiliki nilai.
Ada sesuatu yang berubah ketika produk dari balik tembok lapas mulai sampai ke tangan masyarakat: jarak tim redaksi "warga binaan" dan "masyarakat" menjadi sedikit lebih pendek.
Masyarakat mulai melihat hasil kerja mereka. Warga binaan pun mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.
"Dengan begitu, masyarakat mengetahui bahwa warga binaan juga produktif. Mereka bisa memberikan kontribusi dan menghasilkan produk buatan sendiri yang dapat diterima oleh masyarakat," kata Apudin.
Dari tiga meja hidroponik menjadi lebih dari tujuh. Dari tiga kolam menjadi enam. Dari pelatihan membuat kue sejak 2023 hingga produk masuk ke pesanan instansi dan pasar melalui Teras Balongan.
Angka-angka itu memang belum menggambarkan seluruh cerita. Sebab di baliknya terdapat manusia yang sedang mempersiapkan diri untuk satu hari ketika pintu lapas kembali terbuka, bukan hanya membawa diri kembali ke tengah-tengah masyarakat, tetapi juga membawa keterampilan, pengalaman bekerja, dan harapan bahwa mereka masih bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat.
Sementara itu, kepala Lapas Kelas II B Indramayu, Aramichi Renggalih, mengatakan bahwa pihaknya berupaya memberdayakan keterampilan yang sebenarnya sudah dimiliki oleh warga binaan, baik yang masih sedikit maupun yang sudah cukup banyak.
Keterampilan yang sudah dimiliki tersebut kemudian dikembangkan melalui pelatihan. Katanya, warga binaan yang memiliki kemampuan lebih dapat membantu melatih teman-temannya yang masih membutuhkan tambahan pengetahuan dan keterampilan.
"Maka, keterampilan mereka bisa terus berkembang dan pada akhirnya dapat mendukung kemajuan UMKM di Kabupaten Indramayu," kata Aramichi di sela-sela peninjauannya di ruang produksi UMKM Lapas Indramayu, Kamis (3/9/2026).
Lebih lanjut, Aramichi juga mengungkapkan bahwasanya program ini sangat baik dan menarik karena mungkin sebelumnya, ketika masih berada di luar, para warga binaan belum pernah melakukan hal-hal seperti ini.
"Selama berada di lapas, mereka memiliki waktu yang cukup untuk berlatih dan belajar. Dengan begitu, mereka bisa mengikuti program-program UMKM yang dilatih di sini dan nantinya dapat menerapkannya setelah bebas," ucapnya.
"Begitu juga dengan produk-produk yang sudah kami buat di sini. Produk tersebut kami pasarkan kepada masyarakat umum. Saat ini, pemasaran kami fokus kepada instansi-instansi pemerintah maupun pihak lain di Kabupaten Indramayu," lanjut Aramichi.
Aramichi berharap, ketika warga binaan bebas, keterampilan yang dimiliki warga binaan selama berada di lapas, dapat berbuah hal-hal yang positif.
"Ketika mereka sudah memiliki keahlian dan bisa menghasilkan penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun membantu keluarganya, secara otomatis diharapkan mereka tidak kembali melakukan perbuatan pidana yang pernah dilakukan sebelumnya. Dengan adanya pelatihan-pelatihan ini, kami ingin mengedukasi dan membekali mereka agar menjadi lebih baik ketika kembali bermasyarakat di luar nanti," pungkasnya.