NADIKABAR.COM — Tahun 2026 mungkin menjadi salah satu tahun paling panas di muka bumi dalam 100 tahun terakhir. Bukan hanya karena suhu yang meningkat hingga menimbulkan kekeringan ekstrem di berbagai belahan bumi, tetapi juga karena tensi politik yang meningkat di beberapa kawasan.

Sebut saja perang antara Rusia dan Ukraina yang sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada kejelasan kapan akan berakhir. Atau serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang memantik perang di kawasan Timur Tengah hingga berimbas pada tersumbatnya pengiriman minyak mentah dari wilayah tersebut melalui Selat Hormuz.

Belum lagi perseteruan Arab Saudi dan milisi Houthi di sisi barat yang akhirnya juga mengganggu distribusi minyak mentah dari Timur Tengah melalui jalur laut.

Di Amerika Selatan, Argentina yang baru saja menjadi runner-up Piala Dunia 2026, kembali membawa isu Kepulauan Malvinas atau Kepulauan Folkland versi Inggris, dalam kancah politik internasional.

Kalimat-kalimat di atas hanyalah sedikit dari sekian banyak potensi konflik yang dapat terjadi di berbagai belahan bumi. Di Asia Tenggara pun antarnegara tetangga sempat saling serang. Sebut saja Thailand dan Kamboja di tahun 2025.

Selain "pertarungan" secara fisik, ancaman lain yang tidak kalah mengerikan dan berdampak luas adalah perang informasi. Kemajuan teknologi informasi saat ini membuat konten-konten yang memicu perselisihan muncul bagai jamur di musim hujan.

Disinformasi dan misinformasi menjadi ancaman serius di tingkat global. World Economic Forum 2026 menempatkan disinformasi dan misinformasi pada peringkat teratas risiko global jangka pendek yang paling berbahaya. Bersanding dengan polarisasi sosial dan konfrontasi geoekonomi.