Melalui penguatan kelembagaan KEP, para penerima bantuan akan dibimbing agar bisa memenuhi standar internasional, dengan penerapan teknologi smart farming yang disesuaikan, serta pembukaan akses pasar ekspor yang masif.
"Di hilirisasi kita harus punya nilai tambah, jadi semua petani hortikultura harus berani diversifikasi produk, nggak lagi cuma produksi segar, sudah ke pengepul, nggak. Harus berdaya saing, dia harus punya kemasan, harus punya brand-nya. Nanti kita ajarin di HDDAP ini," ujar Freddy.
"Mau nggak mau, petani hortikultura harus naik kelas. Itu yang kita cita-citakan yang tadinya di pengepul, kita akan naikkan mereka ke retail modern, ke ekspor. Dan itu pun nanti di semua penerima manfaat ini kita harus naikkan kelas mereka. Pemasarannya harus kalau bisa ekspor," imbuhnya.
Program HDDAP ini, kata Freddy, mendapat dukungan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
"Ini sifatnya pinjaman sampai 2029, start-nya 2025, itu kami sudah satu tahun nih menjalani dan berbagai progres sudah kita jalani, sehingga ini adalah momentum evaluasi selama dari Januari dan juga persiapan nanti 2027," ujar Freddy.