Namun, kenaikan volume IPCC lebih banyak berasal dari segmen dengan tarif lebih rendah. Trafik truk dan bus tumbuh 43,98%, sedangkan kendaraan roda dua naik 51,46%.
Berbeda dengan itu, trafik kendaraan utuh atau completely built-up (CBU) yang memiliki nilai tarif lebih tinggi hanya tumbuh tipis 0,95% secara tahunan.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja keuangan IPCC. Pada semester I 2026, pendapatan perseroan turun 0,49% menjadi Rp413,50 miliar. Laba bersih juga turun 9,28% menjadi Rp103,28 miliar.
Kenaikan volume belum sepenuhnya mendorong pendapatan karena tambahan trafik lebih banyak berasal dari kargo dengan tarif lebih rendah. Sementara itu, segmen CBU relatif tidak banyak berubah dan biaya ekspansi jaringan terminal satelit turut memberikan tekanan terhadap margin.
PGEO menyiapkan ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi yang dikelola langsung. Perseroan menargetkan kapasitas mencapai 1,8 GW pada 2034, dari posisi saat ini 727 MW.
Sebelum mencapai target tersebut, PGEO membidik kapasitas 1 GW pada 2028. Untuk menambah sekitar 1.073 MW, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai US$6,43 miliar atau sekitar Rp115,92 triliun.
Biaya pengembangan diperkirakan berada di kisaran US5juta-US6 juta untuk setiap MW kapasitas tambahan.
Pendanaan ekspansi akan berasal dari beberapa sumber, mulai dari modal internal dan sisa dana hasil IPO, hingga fasilitas green financing dan green bond. Perseroan juga menyiapkan skema joint venture bersama PLN untuk membagi risiko serta porsi investasi.
Beberapa proyek yang masuk dalam rencana tersebut antara lain pemanfaatan air panas berkapasitas 30 MW di Ulubelu dan PLTP Lumut Balai Unit 3. PLTP Lumut Balai Unit 3 ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2029.
DMAS akan membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp29 per saham. Total dividen yang disiapkan mencapai Rp1,40 triliun.