Dengan pergerakan udara vertikal yang lebih baik, asap di dekat permukaan diharapkan dapat terangkat dan terdispersi (penyebaran secara merata ke dalam zat lain). Teknik ini berbeda dari modifikasi cuaca yang secara khusus bertujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan.
BMKG menyebut lapisan asap yang terperangkap dalam kondisi tertentu dapat mencapai ketinggian sekitar 6.000-7.000 kaki, bahkan lebih. Ketika kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan, operasi dapat dilanjutkan atau dikombinasikan dengan penyemaian NaCl untuk mendukung proses pembentukan hujan.
Kemenhut melaporkan bahwa pada hari pertama operasi, satu penerbangan menyemai sekitar 800 kilogram dry ice di sekitar Palembang. Operasi kemudian dilanjutkan dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan perkembangan atmosfer.
Berdasarkan pemantauan yang disampaikan Kemenhut dan BMKG, jarak pandang di Palembang menunjukkan perbaikan. Data yang disampaikan dalam laporan Kemenhut pada 17 Oktober menyebut jarak pandang meningkat dari sekitar 300 meter pada pukul 09.00 WIB menjadi 2.800 meter pada sore hari.
Perbaikan jarak pandang itu menjadi indikasi awal yang dipantau dalam pelaksanaan operasi. Namun, perubahan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dry ice menjadi satu-satunya faktor penyebabnya. Kondisi atmosfer, arah dan kecepatan angin, serta perkembangan asap juga perlu diperhitungkan dalam evaluasi.
Dalam pemaparannya, Thomas turut menyebut hasil evaluasi di Sumatera Selatan menunjukkan tingkat keberhasilan sekitar 40%. Ia juga menyampaikan penurunan tingkat polutan dari tingkat berbahaya menjadi sedang.
"Tingkat polutan dari 600 pada level bahaya turun sampai ke level sedang di dekat 200, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) ya, konsentrasi partikel polutan PM2.5 itu," ujarnya.