β€œKita tidak ingin keberhasilan hanya datang sesekali. Prestasi harus dibangun melalui sistem yang konsisten, mulai dari pembibitan, pembinaan, hingga kompetisi internasional,” kata Erick.

Menurutnya, prestasi yang diraih saat ini harus menjadi fondasi untuk capaian yang lebih tinggi, termasuk menuju Olimpiade.

Kemenpora juga mempercepat transformasi kebijakan kepemudaan menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Kementerian tengah menyiapkan cetak biru kepemudaan nasional serta Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia yang bertumpu pada tiga nilai utama, yakni patriotik, gigih, dan empatik.

Ketiga nilai tersebut menjadi fondasi untuk membentuk generasi muda yang mencintai dan bertanggung jawab terhadap bangsa, tangguh menghadapi perubahan dan persaingan global, serta peduli secara sosial.

Melalui kerja sama kementerian, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, dan sektor industri, pembangunan karakter diarahkan menjadi gerakan nasional berkelanjutan, bukan sekadar program seremonial.

β€œKita membutuhkan pemuda yang patriotik, gigih, dan berempati. Pemuda yang tidak hanya bangga menjadi orang Indonesia, tetapi juga memiliki kemampuan, keberanian, dan kepedulian untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju,” tegas Erick.

Ia menegaskan seluruh transformasi merupakan komitmen Kemenpora untuk menerjemahkan visi Presiden Prabowo dalam membangun sumber daya manusia unggul dan memperkuat daya saing bangsa.

Olahraga serta kepemudaan juga dijadikan investasi jangka panjang. Menurut Erick, hasilnya sudah terlihat, tetapi pekerjaan belum selesai.

β€œUkuran keberhasilan bukan hanya berapa medali yang kita menangkan hari ini, melainkan seberapa kuat sistem yang kita bangun agar Indonesia terus melahirkan juara dan generasi muda yang mampu membawa bangsa ini maju,” pungkas dia.