Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari menambahkan, Dugderan Mini ke depannya akan menyajikan atraksi, pertunjukan, dan aneka macam kuliner khas Kota Semarang.

"Dugderan itu kan ciri khas Kota Semarang dan hanya ada di Kota Semarang ini," kata wanita yang akrab disapa Iin itu.

Ia menyebut, Dugderan juga menjadi ajang yang menunjukkan bahwa Kota Semarang merupakan kota toleransi, sehingga nantinya pada Jumat (18/9) juga akan ada Festival Kirab Dugderan dalam skala yang lebih kecil.

"Karena Dugderan tidak hanya kaum muslim saja, tetapi dari berbagai umat beragama ikut meramaikan, sehingga nanti puncaknya di tanggal 18 akan ada kirab Dugder yang digelar Kota Semarang. Hampir seperti Kirab Dugderan tapi dalam versi yang lebih kecil lagi," terangnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang, Khoirul Ikhsan mengatakan, Nostalgia Dugderan juga menjadi momentum untuk menjaga tradisi yang telah melekat dengan kawasan Masjid Agung Semarang.

"Ini suatu sejarah. Dugderan itu tidak lepas dari masjid. Ini suatu yang sangat sinergi tim redaksi ulama dan umat, tim redaksi ekonomi dan agama," kata Khoirul.

Dalam kegiatan Dugderan, terdapat pula sejumlah makanan tradisional khas Kota Semarsng. Para pengunjung juga dihibur dengan lantunan selawat.