Dino turut menekankan bahwa kebijakan Singapura juga untuk menjaga kerjasama dan saling percaya, bukan untuk aksi jahat dan melakukan sabotase.
Ia menyinggung pepatah yang kerap disuarakan yakni "Sejuta kawan terlalu sedikit, satu lawan musuh terlalu banyak". Hal itu justru berlawanan dengan kondisi yang tengah terjadi saat ini.
"Akan sangat kontradiktif kalau kita memperlakukan tetangga terdekat Singapura seperti lawan dan dengan penuh curiga," jelas Dino.
Adapun terkait masalah kabut asap yang masih berlangsung, Dino menjelaskan itu sebagai test case (tolak ukur). Ia menerangkan bahwa bagaimana Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bisa berdiplomasi secara bijak dalam menangani krisis kebakaran hutan.
"Bagaimana Indonesia bisa bertetangga terus dalam keadaan sulit, dan bagaimana sebagai negara yang dianggap pemimpin natural di kawasan Asia Tenggara ini dengan cara semakin mengukuhkan kebesaran Indonesia, bukan kekerdilan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan kejadian bencana tsunami Aceh dan Nias yang terjadi pada 2004. Saat itu, cara Indonesia menangani krisis alam terbesar dalam sejarah justru membuat negara tetangga dan bangsa lain kompak membantu di bawah komando Indonesia.
Dengan demikian, krisis tsunami berhasil ditangani dengan baik. Sebagai bonus tambahan, respect dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia juga ikut semakin tinggi.