Sementara itu, akuisisi kedua menyasar DDL. PACK berencana membeli 100 persen saham DDL dengan nilai transaksi US$324 juta atau sekitar Rp5,74 triliun.

DDL dibeli dari Hanking (Indonesia) Mining Limited. Dalam keterbukaan informasi, transaksi ini disebut sebagai transaksi material sekaligus transaksi afiliasi karena pada saat RUPSLB nanti terdapat kesamaan pengendali akhir antara pihak penjual dan perseroan.

"Objek transaksi: 10.000 saham DDL yang dimiliki Penjual, yang merupakan 100 persen kepemilikan saham DDL," tulis PACK.

Untuk memastikan rights issue terserap, pemegang saham pengendali PACK, PT Eco Energi Perkasa, menyatakan akan melaksanakan haknya sekaligus bertindak sebagai pembeli siaga atau standby buyer.

Eco Energi Perkasa akan menjamin pembelian saham baru yang tidak diambil oleh pemegang saham lainnya dengan nilai maksimal US$418 juta atau sekitar Rp7,40 triliun.

"PT Eco Energi Perkasa akan melaksanakan HMETD yang akan diterimanya dan menjadi pembeli siaga untuk menjamin pembelian saham yang tidak dilaksanakan oleh pemegang saham Perseroan," tulis manajemen.

Berdasarkan daftar pemegang saham per 30 September 2026, Eco Energi Perkasa menguasai 38,51 persen saham PACK. Sementara H Isam tercatat memiliki 20,05 persen saham PACK atau setara 6.836.867.700 lembar saham per September 2026. Adapun posisinya saat ini adalah pemegang saham minoritas signifikan dan bukan pengendali.

Sementara itu, masyarakat serta pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5 persen menguasai 41,44 persen.

Di sisi lain, aksi korporasi ini membawa risiko dilusi cukup besar bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya.