NADIKABAR.COM β€” Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan akan memperhatikan keseimbangan antara ekspansi smelter alumina dengan permintaan global terhadap alumina, sehingga harga komoditas dapat terjaga.

β€œKeseimbangan itu harus kami perhatikan,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.

Yuliot menyampaikan Kementerian ESDM saat ini melihat keseimbangan antara industri alumina dengan pasokan yang ada.

Ketika suplai alumina lebih tinggi dibandingkan permintaan global akibat ekspansi smelter alumina yang masif, Yuliot mengkhawatirkan hal tersebut dapat berdampak terhadap harga komoditas.

β€œPada saat ternyata suplai lebih tinggi, nanti kan itu harga kan juga akan terjadi penurunan signifikan. Ini pasarnya kan bukan hanya pasar domestik untuk produk yang dihasilkan, kita juga memperhatikan permintaan global,” ujar Yuliot.

Menteri Investasi dan Hilirisasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan realisasi investasi hilirisasi bauksit meningkat 193 persen menjadi Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp13,7 triliun.

Menurut Rosan, peningkatan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam negeri maupun luar negeri.

Nilai tersebut melampaui investasi hilirisasi nikel yang tercatat Rp29,4 triliun, diikuti tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional, yang mencapai Rp511,8 triliun.