NADIKABAR.COM — Selain di bidang sepak bola, Garut juga ternyata tidak pernah kehabisan sosok aktor bertalenta. Mulai dari Epy Kusnandar hingga Abenk Marco, kini giliran Faris Fadjar yang menjadi penerus cerita sukses pemain film dari kota berjuluk Swiss van Java.
Faris Fadjar Munggaran, nama aslinya, atau yang lebih akrab disapa Kakang ini, lahir di Garut, 16 Mei 2004. Kakang tak lain adalah anak dari aktor Tanah Air, sekaligus legenda pencak silat asal Garut, Cecep Arif Rahman.
Seperti sang ayah, Faris juga mahir dalam pencak silat. Selain itu, darah akting juga mengalir di tubuhnya dari Kang Cecep, yang menjadi aktor laga di Indonesia hingga ke luar negeri.
Karier Faris di dunia akting tak lepas dari keterlibatan sang ayah dalam berbagai film, baik di Tanah Air maupun di Hollywood. Kepada NadiKabar Faris bercerita jika dirinya sudah tertarik terhadap dunia perfilman sejak kecil.
"Dari awal suka diajak syuting sama Abah (Cecep), dan sejak kelas 6 SD mulai tertarik. Tapi karena saya masih kecil, jadi seadanya saja," ungkap Faris.
Serial televisi Satria Heroes: Revenge of Darkness adalah judul pertama yang Faris mainkan di dunia seni peran. Dia bermain dalam serial tersebut di umurnya yang masih sekitar 13 tahun, pada tahun 2017, meskipun hanya sekadar menjadi pemain figuran.
Setahun berselang, Faris kemudian debut di layar lebar. Kali ini, dia berkesempatan untuk ikut bermain sebagai figuran di film bergenre laga komedi, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karya sutradara Angga Sasongko tersebut. Di film itu, Faris memerankan sosok Wiro Sableng remaja.
"Setelah Wiro Sableng, kemudian alhamdulillah berkesempatan untuk ikut di film Gundala sebagai Awang di tahun 2019," katanya.
Karier baru saja dimulai beberapa tahun, dan namanya baru saja muncul di industri perfilman. Tapi saat itu, Faris mengambil keputusan yang berani dalam hidupnya. Dia memutuskan untuk hiatus dari dunia film.
"Pertimbangannya saat itu, karena saya ingin fokus dulu mengejar pendidikan. Jadi saya vakum dari tahun 2019 hingga tahun 2025," ucap Faris.
Selama 6 tahun 'tilem' dari dunia film, Faris mengaku banyak menemukan pengalaman baru dalam kehidupan pendidikannya. Salah satunya merasakan overthinking karena perubahan karakter dari ekstrovert saat kecil menjadi introvert di masa remaja.
"Kalau pas kecil, pede saja. Tapi ketika masuk SMA, jadi malu. Malu kalau berbicara dengan orang, malu ketika berperan. Sampai ada saatnya ketika saya bilang ke ibu, bahwa fesyen saya bukan di sini (film) deh," ungkap Faris.
"Tapi saat itu ada satu kata-kata yang menguatkan saya, kira-kira begini; Coba dulu saja. Kalau sudah dicoba, berhasil atau tidak itu bonus. Akhirnya saya berani," kata Faris menambahkan.
Namun singkat cerita, Faris kemudian bisa melawan dirinya sendiri. Faris keluar dari ketakutannya selama ini, dan mantap menatap dunia seni peran sebagai jalan hidupnya.
"Dulu sering overthinking, memikirkan respons orang. Tapi akhirnya bisa mengatasi. Itu juga berkat lingkungan yang selalu mendukung saya," kata lelaki lulusan SMAN 6 Garut tersebut.
Selain melawan dirinya sendiri, Faris juga dihadapkan dengan tantangan lain di dunianya ini. Yakni nama besar sang ayah yang ada di pundaknya. Faris mengaku awalnya sempat terbebani dengan hal itu.
"Awalnya iya. Rasanya berat memikul nama besar Abah. Tapi akhirnya luntur karena sering dinasihati. Alhamdulillahnya banyak yang support saya," kata Faris.
Faris kemudian comeback* ke industri perfilman di tahun 2025. Tak tanggung-tanggung, dirinya bermain di film *Pengepungan di Bukit Duri, karya sutradara kondang Indonesia, Joko Anwar. Di film tersebut, Faris berperan sebagai Reihan.
Setelahnya, film pertamanya pasca hiatus itu, Faris kemudian memainkan peran di film-film lain. Mulai dari Rumah untuk Alie* (2025), *Rangga & Cinta* (2025), *Romantics Anonymous* (2025) serta *The Tiger* (2025) dan film yang saat ini sedang tayang, *Ayah, Aku Mau Cerita (2026).
Faris mengaku sangat beruntung. Sebab, meskipun baru di dunia film, tapi dirinya dikelilingi orang-orang hebat di bidangnya, yang tak pernah pelit berbagi ilmu. Nama-nama seperti Ganindra Bimo, hingga karibnya, Dito Darmawan, adalah beberapa dari segudang pelakon yang kerap mendukung langkahnya.
"Jadi sebenarnya tidak terlalu gimana-gimana meskipun sebagai pendatang baru. Karena dari dulu, sudah sering diajak Abah untuk syuting," katanya.
"Culture shock juga tidak ada sebenarnya. Paling yang sangat sulit hingga saat ini, adalah menghilangkan aksen Bahasa Sunda saya. Makanya banyak retake adegan gegara Bahasa Sunda saya keluar," kelakar Faris.
Di akhir perbincangannya dengan NadiKabar, Faris sendiri mengaku jika apa yang dia raih saat ini tak lepas dari didikan sang ayah. Sebab, dua bidang yang dikuasainya saat ini, yakni pencak silat dan seni peran, dua-duanya diwariskan dari Cecep Arif Rahman.
Namun, Faris berkelakar, rasa-rasanya dirinya harus pontang-panting mencari ilmu di luar rumah, khususnya untuk bermain film. Sebab, kata Faris, Cecep irit bicara dengannya.
"Fun fact-nya adalah, ketika Abah bermain di film John Wick: Chapter 3, itu keluarga enggak ada yang dikasih tahu. Bilangnya berangkat ke Amerika Serikat karena ada seminar pencak silat katanya. Tapi pas video call, eh ternyata baru bilang bahwa di sana lagi syuting John Wick bareng Keanu Reeves dan Wa Yayan (Yayan Ruhiyan)," pungkas Faris sambil terbahak.