Kadar arsenik tertinggi terdeteksi di aliran sungai di bawah bekas area pertambangan saat terjadi badai. Kandungannya mencapai 70 mikrogram per liter arsenik terlarut dan 740 mikrogram jika termasuk arsenik yang terikat pada partikel.

Hal ini karena lubang galian yang ditinggalkan terbuka mengandung arsenik dan kemudian akan teroksidasi menjadi aliran asam tambang yang beracun. Tambang terbuka ini berpotensi mengaliri air yang telah terkontaminasi hingga ke muara sungai dan selanjutnya akan sangat berbahaya apabila air yang sama digunakan oleh penduduk untuk kehidupan sehari-hari.

Bangunan yang terbakar di area perkotaan juga menghasilkan arsenik dalam jumlah besar, terutama dari abu kayu lama yang pernah dilapisi bahan kimia pengawet. Abu kayu ini mengandung arsenik 33 kali lebih banyak dari abu biasa.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di NadiKabar.com.