NADIKABAR.COM β Praktisi migas, Fatar Yani Abdurrahman menyatakan temuan gas di South Andaman, Aceh harus dapat mendorong penguatan industri hingga memberikan nilai tambah terhadap perekonomian Aceh.
"Pengembangan gas South Andaman perlu berfokus pada pertumbuhan industri, nilai tambah, dan manfaat ekonomi bagi Aceh, bukan sekedar lokasi pemrosesan," kata Fatar Yani Abdurrahman dalam keterangannya, di Banda Aceh, Selasa.
Mantan Wakil Kepala SKK Migas ini mengatakan, keberadaan sumber gas baru bakal memberikan dampak ekonomi lebih luas apabila tersedianya industri yang mampu menyerap gas tersebut dengan harga kompetitif.
βYang paling penting adalah gas ini diserap oleh industri. Kalau mau dibangun di daerah, industri apa? Bisa pupuk, petrokimia, metanol, GTL, dan banyak industri lainnya,β ujarnya.
Ia menuturkan, pembangunan fasilitas di darat memang tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar apabila tidak terdapat pasar atau industri yang menggunakan gas tersebut.
Karena itu, pembahasan pengembangan South Andaman perlu diperluas bagaimana membangun rantai pemanfaatan gas, sehingga gas yang dihasilkan memberikan nilai tambah di darat melalui pembangunan industri pengguna gas.
βUntuk pertumbuhan ekonomi di darat, yang diperlukan adalah industri-industri yang menyerap gas itu,β katanya.
Fatar mengingatkan, lokasi fasilitas processing tidak otomatis menentukan besarnya multiplier effect (dampak pengganda) bagi perekonomian daerah.
Meski aktivitas offshore tetap dapat membuka peluang bagi tenaga kerja dan perusahaan lokal melalui rantai pasok dapat melibatkan logistik, jasa pendukung operasi, penyedia kebutuhan fasilitas offshore, hingga transportasi kondensat menuju darat.
Namun, dampak ekonomi yang lebih besar justru dapat tercipta apabila gas digunakan sebagai bahan baku bagi kegiatan industri di darat.
βYang paling penting adalah gas ini diserap oleh industri. Itu baru benar kalau kita ingin membangun nilai tambah di daerah,β ujarnya
Di sisi lain, Fatar mengatakan bahwa keberadaan cadangan gas tidak dengan sendirinya menjamin tumbuhnya industri apabila harga gas yang sampai kepada konsumen terlalu tinggi.
Industri kimia dan petrokimia sangat sensitif terhadap harga, karena gas merupakan salah satu komponen utama biaya produksi.
βKalau industri kimia harus membeli gas dengan harga 8 atau 9 dolar, sudah pasti tidak bisa. Mereka akan rugi,β kata Fatar.
Karena itu, diperlukan perhitungan keekonomian yang mempertemukan kepentingan proyek hulu dengan kemampuan industri untuk menyerap gas.
Ia juga mengingatkan bahwa fasilitas LNG Arun yang telah berusia lama tidak otomatis menjadi satu-satunya solusi bagi gas South Andaman. Kondisi peralatan, teknologi, keekonomian revamping, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan proyek saat ini tetap harus dievaluasi.
Di luar aspek teknis dan ekonomi, Fatar menegaskan pentingnya kepastian investasi dan keamanan dalam menjaga minat investor untuk melanjutkan pengembangan.
Karena, proyek hulu migas membutuhkan investasi besar dan memiliki periode pengembalian yang panjang. Ketidakpastian yang berkepanjangan dapat menyebabkan investor menunda keputusan, bahkan mempertimbangkan kembali investasinya.
Maka dari itu, ia mendorong agar peluang pengembangan South Andaman tidak dibiarkan terlalu lama tertahan. Tetapi, percepatan pengembangan harus tetap diikuti tata kelola dan pengawasan yang kuat.
"Keberhasilan South Andaman pada akhirnya perlu diukur tidak hanya dari beroperasinya lapangan gas, tetapi juga dari seberapa jauh sumber daya tersebut mampu menjadi penggerak kegiatan ekonomi di darat," demikian Fatar.