Menurut Direktur Eksekutif The Meadows Center for Preventing Educational Risk, Sharon Vaughn, faktornya tidak hanya karena pandemi yang sempat terjadi selama beberapa tahun. Namun, krisis kemampuan membaca siswa di AS juga diperparah dengan kesenjangan pengetahuan.
"Guru harus tahu ilmu dari membaca, jadi mereka dapat menerapkannya. Namun, masalahnya tidak terjadi di setiap tempat. Hal ini tidak terjadi di setiap sekolah, tidak terjadi di setiap wilayah," jelasnya.
Dikutip dari Yale Daily News, penelitian terbaru memang menunjukkan krisis literasi yang semakin meningkat di AS. Studi memperlihatkan penurunan kemampuan membaca di kalangan siswa kelas tiga. Padahal, kelas tiga merupakan salah satu tahun terpenting dalam pendidikan siswa AS.
Sebanyak 40% siswa kelas empat memiliki kemampuan membaca di bawah tingkat dasar. Artinya, mereka kekurangan keterampilan untuk mengidentifikasi ide utama dan membuat kesimpulan sederhana.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran, mengingat kelas empat merupakan transisi kritis dalam pendidikan siswa. Pada saat ini, siswa AS mengalami peralihan dari membaca untuk belajar menjadi belajar membaca, menggunakan instruksi membaca untuk mempelajari berbagai mata pelajaran akademik.