Pihak SPPG mengaku baru mendapatkan kabar adanya dugaan keracunan tersebut pada Kamis (3/9) pagi. Pihaknya mengaku langsung berkoordinasi dengan sekolah.
"Kemarin pada saat kita langsung ke Smanela karena kita diberi informasi itu hari Kamis pagi. Karena menunya Rabu, Kamis pagi kita diberitahukan ada semacam kejadin tersebut, kita langsung ke Smanela. Setelah itu kita ketemu ibu Kepsek karena memang kita nggak tahu ibu kepsek mungkin khawatir atau apa terus siswanya semua dipulangkan. Sebelumnya itu layak konsumsi karena sebelumnya ada uji organoleptik," ujarnya.
Saat penanganan di lokasi, Soleh menyebut petugas dari puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) sebenarnya sudah bersiap membawa para siswa yang bergejala ke fasilitas kesehatan. Namun, kendala penanganan berasal dari siswa sendiri.
"Ketika kita informasikan ke puskesmas, puskesmas mau datang ke Smanela. Karena sudah ada ambulans juga dari puskesmas, juga dari DKK (Dinas Kesehatan Kabupaten), tetapi para siswa itu tidak mau masuk ke ambulans. Tidak mau ke puskesmas, malah mereka itu kayak maunya pulang pagi. Jadi puskesmas tidak bisa mengobservasi semua siswa yang terdampak," kata Soleh.
Saat ini seluruh sampel menu makanan MBG yang disajikan saat kejadian telah diambil oleh Dinas Kesehatan untuk diuji di laboratorium. Hal ini guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut.